Bias Dalam Psikologi Sosial Perempuan

Bias dalam psikologi sosial yang paling rancu adalah mengenai wanita. Pada umumnya perempuan dicitrakan atau mencitrakan dirinya sendiri sebagai makhluk yang emosional, mudah menyerah, pasif, subjektif, lemah dalam matematika, mudah terpengaruh, lemah fisik, dan dorongan seksnya rendah. Sementara laki laki dicitrakan dan mencitrakan dirnya sebagai makhluk yang rasional, logis, mandiri, agresif, kompetitif, objektif, senang berpetualang, aktif, memiliki fisik dan dorongan seks yang kuat.

Masalahnya, citra fisik perempuan acapkali dipersepsikan sebagai citra kepribadian perempuan. Akibat citra fisik yang dimiliki, perempuan dicitrakan sebagai makhluk yang tidak sempurna (the second class), makhluk yang tidak penting (subordinate), sehingga selalu dipinggirkan, dieksploitasi, dan mereka sering diposisikan hanya mengurusi masalah rumah tangga, seperti masalah dapur, kasur dan sumur, meski dalam mengurus masalah  domestic sekalipun, kaum perempuan tetap tidak memiliki kedaulatan penuh karena dikendalikan oleh kaum laki laki dalam kondisi budaya patriarkhis, sehingga seringkali menghadapi tindakan kekerasan secara fisik, seksual, ekonomi, dan pelecehan. Sejak kecil anak perempuan dikendalikan oleh ayah, saudara laki laki, paman atau walinya. Setelah dewasa perempuan dikendalikan oleh suaminya, dan jika berkarir dikendalikan oleh majikannya dan peraturan kerja yang partiarkhis.

Bias Dalam Psikologi Sosial mengenai perempuan selanjutnya yaitu perempuan yang menderita akibat perlakuan laki laki atau sistem yang patriartkhis itu dipandang lumrah dan lazim sehingga perempuan tidak memiliki pilihan untuk tinggal di rumah atau ke luar rumah. Kedua dunia itu sama sama tidak memberi tempat yang aman dan nyaman untuk perempuan. Akibatnya banyak perempuan yang tetap bertahan dalam rumah tangganya, apapun keadaannya. Fenomena perempuan yang bertahan menerima nasib yang menyakitkan ini dianggap sebagai citra perempuan yang memiliki sifat masochism, yaitu perempuan yang mampu bertahan dalam kesakitan dan penderitaan. Oleh karena itu, masochism dipandang sebagai citra perempuan, ini mengindikasikan penegasan dan kelaziman dominasi dan hegemoni laki laki terhadap perempuan. Pencitraan yang bias ini telah meinmbulkan steretip peran gender yang berbeda antara perempuan dan laki laki. Pencitraan yang bias ini sudah melembaga terstruktur dalam budaya, hampir tanpa gugatan dan kritikan.

Berdasarkan hasil penelitian menyimpulkan, Bias Dalam Psikologi Sosial mengenai perempuan yaitu bahwa sejak kecil hingga dewasa menunjukkan kemampuan verbal yang lebih baik. Anak perempuan biasanya mulai berbicara lebih awal, cenderung memiliki perbendaharaan kata yang lebih banyak, memperoleh prestasi tinggi di sekolah, megnerjakan tugas yang lebih baik dibanding anak laki laki. Anak laki laki sejak kecil hingga dewasa  memperlihatkan kemampuan spasial yang lebih baik, memiliki kemampuan matematika, geografi, dan politik yang lebih maju daripada anak perempuan, meski perbdaan ini sangat tipis.

Feminitas dan maskulinitas seringkali dipandang sebagai citra yang bersifat internal dan menetap, padahal sebenarnya merupakan produk budaya yang dinamis dan berkembang. Oleh karena dicitrakan oleh lingkungan dan budaya yang dinamis dan berkembang, maka pencitraan perempuan dan laki laki berdasarkan gender berbeda antara satu budaya dengan budaya lain, dan berbeda antar waktu dan tempat.

Terdapat beberapa Bias Dalam Psikologi Sosial mengenai perempuan dapat dikemukakan, antara lain sebagai berikut :

Pertama, psikologis perempuan dipandang dependen, berwatak mengasuh, dan merawat. Pandangan tersebut mengandung bias karena sulit dibuktikan kebenarannya, sebab dalam realitas kehidupan cukup banyak laki laki yang berwatah pengaruh, dan cukup banyak perempuan yang mandiri, tidak seperti yang dicitrakan secara baku dan kaku. Dengan demikian, ada beberapa bukti yang mendukung perbedaan tersebut, dan ada beberapa bukti bahwa perbedaan itu sangat tipis antara karakteristik psikologis perempuan dan laki laki.

Kedua, Bias Dalam Psikologi Sosial, perempuan selalu mengalah, menyetujui, menyesuaikan diri, dan menyenangkan orang lain. Perilaku kasar, asertif, suka berkelahi dan agresif, termasuk agresif secara verbal dan dipandang seabgai citra laki laki yang dikonstruksi, dibenarkan, dan disosialisasikan secara turun temurun antar generasi dalam struktur budaya sehingga mengilhami perilaku laki laki. Aktivitas berbicara yang keras, memaksa, mendikte, menginterupsi, menginstruksi, mengancam, menolak permintaan orang lain, memprotes, mengkritik, mencemooh, menguasai adalah merupakan bibit yang secara sengaja maupun tidak, telah membentuk karakter maskulin yang diharapkan kepada laki laki. Dengan demikian perempuan yang dicitrakan lemah dan pasif sedangkan laki laki aktif dan agresif merupakan citra bias gender, karena dikonstruksi oleh lingkungan dan budaya masyarakat, bukan merupakan citra yang terberi dari kodrat.

Ketiga, Bias Dalam Psikologi Sosial perempuan itu emosional dan mudah menangis, berdasarkan studi observasi terhadap perempuan dan laki laki, ditemukan bahwa anak laki laki lebih sering menangis ketika masih bayi dan sedang belajar berjalan dengan tertatih daripada anak perempuan, tetapi perempuan dewasa dan tua lebih sering menangis daripada laki laki seusianya. Sejak kecil anak laki laki tidak diharapkan mudah menangis oleh orangtuanya atau lingkungan, meski air mata tetap diterima sebagai cara mengekspresikan emosi.

Keempat, Bias Dalam Psikologi Sosial perempuan yang penakut dan sensitive. Berdasarkan penelitian, anak perempuan dan laki laki prasekolah sama sama berjiwa petualang dan berani. Namun semakin besar, anak perempuan sering ditakut takuti dan dibenarkan untuk takut, sementara laki laki dicemooh saat mengakui dan menunjukkan rasa takut. Demikian pula saat dewasa, laki laki cenderung tabu untuk mengaku dan cemas menghadapi sesuatu, padahal obat penenang dan minum banyak dikonsumsi kaum laki laki sebagai pelampiasan dari kecemasannya.

psikologi sosial

Kelima, Bias Dalam Psikologi Sosial perempuan yang lemah dan tidak berprestasi. Minimnya jumlah perempuan yang ahli di bidang sains, politik, dan ekonomi dipandang citra perempuan yang lemah disebabkan ketidakmampuannya dalam mengejar prestasi seperti yang dicapai laki laki.

Keenam, Bias Dalam Psikologi Sosial perempuan yang mudah terpengaruh dan mudah dibujuk untuk mengubah keyakinannya. Dalam situasi yang tidak ada kontak dengan pembujuk sekalipun, perempuan lebih bersedia menyesuaikan diri daripada laki laki berdasarkan pertimbangan konsekuensinya yang diasumsikannya. Hal ini menunjukkan ada perbedaan konformitas antar perempuan dan laki laki, namun perbedaan tersebut sangat tipis, bahkan perbedaan konformitas perempuan tersebut dipandang positif karena mempertimbangkan konsekuensi yang akan timbul di kemudian hari yang umumnya tidak dipikirkan oleh laki laki secara detai.

Bias dalam psikologi sosial perempuan

Ketujuh, Bias Dalam Psikologi Sosial perempuan lebih sensitive terhadap perilaku non verbal. Berdasarkan observasi, perempuan memiliki kemampuan dalam mengekspresikan dan memahami pesan pesan non verbal. Perempuan lebih mampu memahami perangai wajah atau gerak orang lain dan lebih mampu mengekspresikan pesan pesan non verbal secara tepat, khususunya ekspresi wajah, seperti tatapan mata, senyuman, tarikan garis alis, tarikan bibir, kerutan kening, maupun pandangan yang kosong, bersahabat, gembira, sedih, kaget, benci, atau marah kepada orang lain. Diperkirakan terdapat gabungan antara berbagai faktor, seperti tekanan sosial, perbedaan pengalaman, tuntutan sosial, dan predisposisi biologis. Ditemukan pula, laki laki cenderung lebih sering menyentuh lawan jenisnya. Gejala ini secara spekulasi dijelaskan bahwa menyentuh orang lain berdasarkan berbagai alasan dan melalui berbagai cara seperti apakah secara kebetulan, secara agresif, dengan takut takut , secara seksual, untuk menyatakan dominasi, mengekspresikan afeksi, atau memberi kenyamanan. Maknanya pun berbeda tergantung dari relasi yang telah terbangun sebelumnya maupun tuntutan situasi tertentu yang menghendakinya.

bias dalam psikologi sosial

Kedelapan, Bias Dalam Psikologi Sosial perempuan lebih ekspresif. Perempuan sering dicitrakan berperilaku cenderung ekspresif, sedangkan laki laki berperilaku instrumental dikaitkan dengan interrelasi di lingkungan sosial. Perempuan lebih lekat dan mampu melakukan relasi interpersonal daripada laki laki. Pekerjaan perempuan pantas sebagai perawat, sekertaris, guru TK, bendahara, atau mengurusi konsumsi yang cenderung memanifestasikan terjadi hubungan keakraban dan kasih sayang, sedangkan pekerjaan laki laki pantas untuk melakukan perburuan, pencari nafkah utama, atau manager yang cenderung menuntut kualitas bebas, mandiri, dan percaya diri. Peran peran tersebut dinormakan sesuai dengan ekspektasi masyarakat. Ekspektasi ini mengakibatkan perempuan maupun laki laki menyesuaikan diri dengan berbagai pembatasan peran gender. Peran gender juga berkaitan dengan keyakinan dan sikap mengenai berbagai kemampuan, aktivitas, dan aspirasi dari setiap individu yang ikut mewarnai tampilan peran. Pengaruh dari peran gender yang dilekatkan oleh masyarakat terahdap perempuan maupun laki laki, mengakibatkan timbulnya citra spesifik yang dianggap menetap pada masing masing jenis kelamin.

Kesembilan, Bias Dalam Psikologi Sosial perempuan itu pasif dalam masalah seks dan hanya menjadi objek seks laki laki. Laki laki dicitrakan secara stereotip dalam masalah seksual adalah lebih dominan, lebih aktif, memiliki dorongan besar, mudah tergugah, lebih agresif, dan selalu memulai aktivitas seksual lebih dahulu. Perempuan lebih submisif, pasif, menunggu, lebih lama tergugah, malu malu, kurang berminat, sulit tergugah secara fisik. Dalam realitas, ketergugahan seksual antara perempuan dan laki laki hampir berimbang. Ketergugahan seksual perempuan lebih dipengaruhi oleh dorongan psikologis, sedangkan ketergugahan seksual laki laki lebih didorong oleh hal hal yang bersifat fisiologis dan biologis. Perempuan memberikan seks kepada laki laki dalam rangka memperoleh cinta atau sesuatu yang diinginkan dalam domain lain dari laki laki, sedangkan laki laki memberi cinta kepada perempuan dalam rangka memperoleh seks dari perempuan. Melalui proses sosialisasi dalam keluarga, anak laki laki belajar menekankan aspek seks yang bersifak fisik, romantis, erotis dan superficial, sementara perempuan belajar menekankan aspek seks untuk menyatakan relasional, keintiman, dan kasih sayang secara psikologis.

Demikianlah informasi mengenai Bias Dalam Psikologi Sosial mengenai perempuan. Artikel terbaru ada di Home. Artikel berikutnya mengenai contoh teori psikologi klasik.

Bias Dalam Psikologi Sosial Perempuan | | 4.5