Menciptakan lingkungan edukatif dalam kelas

Menciptakan lingkungan edukatif dalam kelas harus diperhatikan terutama oleh guru dan pengelola sekolah yang lainnya. Lingkungan sekolah tidak kalah pengaruhnya dengan lingkungan keluarga dalam mengantarkan siswi siswinya setara kemampuannya dengan siswa siswanya yang laki laki. Perasaan kemampuan yang berbeda antara anak perempuan dan laki laki hasil awal sosialisasi dari orangtua dan lingkungan keluarga, kemudian sering diperkuat oleh lingkungan sekolah, terutama sekali setelah masa pubertas dan dewasa muda ketika identitas dewasa dibentuk. Pada saat itu, seorang pemudi yang mencapai umur 18-22 tahun merasakan konflik internal serius atas tuntutan lingkungan, dan jika dia tidak mampu memecahkan dilemma dengan cepat, perasaan kemampuannya menurun. Sebenarnya kemampuan perempuan dan laki laki sama pada bidang tertentu. Karena itulah menciptakan lingkungan edukatif dalam kelas baik sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Praktek pendidikan yang belum optimal memberdayakan semua talenta dan potensi tersebut berakar dari masih rendahnya penguasaan metodologi pembelajaran, dimana metodologi pembelajaran yang berlangsung selama ini tidak memberi kesempatan cukup kepada siswa siswi untuk berkembang. Para pendidik dan orangtua umumnya sudah mendefinisikan berbeda macam pendidikan untuk perempuan dan laki laki, mendefinisikan harapan harapan yang berbeda untuk anak perempuan dan laki laki, termasuk target berbeda untuk anak laki laki dan perempuan. Perbedaan dalam pendefinisian ini menjadi legitimasi yang merujuk pada perlakuan diskriminatif untuk siswa siswi dalam proses pembelajaran. Karena adanya kekurangan dalam penguasaan metodologi pembelajaran dan hal lainnya maka diperlukan kemampuan pendidik dalam menciptakan lingkungan edukatif dalam kelas.

menciptakan lingkungan edukatif dalam kelas

Menciptakan lingkungan edukatif dalam kelas

Perlakuan diskriminatif dalam proses pembelajaran berakar dari paradigm konvensional yang memandang anak perempuan lebih rendah dari anak laki laki dalam berbagai partisipasi kehidupan. Paradigm yang telah terkonstruksi secara cultural turun temurun ini diperkuat oleh usaha usaha untuk mengarahkan laki laki menjadi maskulin dan anak perempuan menjadi feminism, yang kemudian mempengaruhi perkembangan masing masing anak perempuan dan anak laki laki menjadi berbeda. Sosialisasi seperti ini terjadi sejak dini melalui institusi keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara. Untuk itu diperlukan peranan dari semua pihak dan tidak hanya guru yang menciptakan lingkungan edukatif dalam kelas, tetapi lingkungan tempat sang anak bergaul dan tempat tinggal nya perlu dibangun lingkungan yang baik untuk belajar.

Pada sebagian masyarakat, kaum perempuan sudah diizinkan bekerja di luar rumah tangga, meski pekerjaan itu bukan pokok, sekedar membantu pekerjaan dan menambah penghasilan suami, karena itu nilai kerjanya sering dihargai tidak secara penuh. Penghargaan yang belum setara terhadap pekerjaan perempuan di luar rumah tangga itu disebabkan modal kualitas pekerja perempuan dan laki laki berbeda. Tingkat pendidikan, bidang keahlian, serta kepemilikan keterampilan perempuan umumnya lebih rendah dari laki laki. Dari kondisi seperti ini, dunia pendidikan acapkali dituding belum memuaskan pengembangan talenta peserta didik secara keseluruhan, khususnya anak perempuan dan mereka yang berasal dari keluarga ekonomi lemah.

Demikianlah informasi mengenai menciptakan lingkungan edukatif dalam kelas. Untuk informasi terbaru silahkan lihat di Home. Artikel berikutnya mengenai stereotip gender di masyarakat.

Menciptakan lingkungan edukatif dalam kelas | | 4.5