Mitos otak kiri dan otak kanan

Mitos otak kiri dan otak kanan memang sudah menyebar luas sekarang ini. Apakah sebagian orang menggunakan otak kiri, dan sebagian yang lain menggunakan otak kanan? Ada bukti yang meyakinkan bahwa dua belah otak, yang disebut hemisfer, memiliki fungsi berbeda. Misalnya, kemampuan tertentu lebih dipengaruhi oleh cedera di salah satu belahan otak dibandingkan belahan yang lain, dan teknik pencitraan otak menunjukkan bahwa kegiatan hemisfer berbeda ketika orang orang melakukan berbagai macam tugas psikis.

otak kiri dan otak kanan

Sejauh ini, bukti paling dramatis untuk pembagian fungsi secara lateral – keunggulan salah satu hemisfer dalam mengerjakan tugas tertentu – berasal dari para pasien yang tleh menjalani operasi pemisahan otak. Dalam operasi yang jarang sekali di lakukan ini, ahli bedah memotong berkas saraf yang menghubungkan hemisfer kiri dan kanan otak sebagai upaya terakhir mengendalikan penyakit epilepsy parah. Jalur besar yang menghubungkan kedua hemisfer ini, sasaran utama operasi pemisahan otak, disebut korpus kalosum (badan kolosal).

Mitos otak kiri dan otak kanan dipicu oleh seorang yang bernama Robert Ornstein.

Mitos otak kiri dan otak kanan

Robert Ornstein adalah salah satu yang menganjurkan ide menggunakan cara yang berbeda untuk menggunakan otak kanan yang kreatif dan otak kiri yang intelektual dalam bukunya pada 1997, yaitu the right mind: making sense of hemisphere. Selain itu, sejumlah program pendidikan dan bisnis menghapuskan penekanan mendapatkan jawaban yang benar dalam ujian untuk lebih memanfaatkan kemampuan kreatif. Keinginan para ahli ilmu jiwa populer menempatkan semua kemampuan berpikir ke belahan otak kiri atau kanan saja mungkin lebih didorong oleh politik, nilai sosial, dan kepentingan komersial dibandingkan ilmu pengetahuan.

Akan tetapi, panel para ahli yang dibentuk oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional AS mematahkan mitos otak kiri dan otak kanan. Ia menyimpulkan bahwa tidak memiliki bukti langsung yang menunjukkan bahwa penggunaan hemisfer yang berbeda bisa dilatih. Panel tersebut menyimpulkan bahwa pelatihan perilaku kemungkinan dapat meningkatkan berbagai gaya belajar atau penyelesaian masalah, tetapi kemajuan semacam itu bukan karena perbedaan fungsi hemisfer kiri dan kanan.

Jika latihan perilaku yang dianjurkan untuk melatih hemisfer kanan mungkin menghasilkan sedikit manfaat, kita tidak mengatakan hal yang sama untuk alat penyelaras otak yang dijual untuk tujuan yang sama. Berbagai alat semacam ini diduga dapat menyelaraskan atau menyinkronkan kegiatan kedua hemisfer. Begitulah penjelasan mitos otak kiri dan otak kanan

Mitos otak kiri dan otak kanan yang keliru

Intinya adalah, jangan percaya dengan berbagai pernyataan para pendukung dikotomi yang ingin menjual seminara tau para pemasar alat sinkronisasi hemisfer yang kedengaran terlalu baik untuk menjadi kenyataan. Penelitian terkini menganai perbedaan hemisfer, bahkan oleh para ilmuwan yang telah menemukan spesialisasi otak kiri dan kanan, dipusatkan pada upaya menunjukkan bagaimana otak normal bekerja dengan cara terpadu.

Demikian informasi mengenai mitos otak kiri dan otak kanan. Untuk melihat artikel terbaru lainnya silahkan lihat di Home. Artikel berikutnya mengenai mitos pesan subliminal.

Mitos otak kiri dan otak kanan | | 4.5