Mitos tentang trauma

Mitos tentang trauma berkembang pesat pada pertengahan tahun 1990-an.

Survey memang menunjukkan bahwa banyak terapis yang berusaha menggali ingatan terpendam dari lubang tersembunyi dalam pikiran kita. Setelah menyurvei lebih dari 860 psikoterapis, ahli mendapati bahwa hampir 60% psikoterapis percaya bahwa orang tidak bisa mengingat sebagian besar masa kecil mereka karena mereka menekan kejadian traumatis. Para peneliti mendapati bahwa lebih dari tiga perempat terapis mengatakan menggunakan setidaknya satu teknik pemulihan ingatan, seperti hypnosis, visualisasi dan terus bertanya dan mendesak, untuk membantu para klien mengingat peristiwa buruk yang pernah terjadi semasa kecil.

Banyak juga ahli yang percaya bahwa mereka dapat mengidentifikasi pasien dengan ingatan yang ditekan atau dilupakan sama sekali sejak sesi awal, dan menggunakan dua atau lebih teknik pemulihan ingatan untuk meningkatkan ingatan dalam mengungkapkan kejadian masa lalu. Satu tahun kemudian para ahli melaporkan temuan yang sama dalam survey terapis lain.

Mitos tentang trauma mulai dipatahkan karena bertentangan dengan hipotesis penekanan ingatan, penelitian akhir akhir ini menunjukkan bahwa sebagian besar orang mengingat berbagai kejadian traumatis seperti Holocaust dan bencana alam – terkadang mengingatnya dengan sangat baik – dalam bentuk kilas balik yang mengganggu.

Mitos tentang trauma lengkap

Selain itu, fakta bahwa sebagian orang dapat mengingat kembali ingatan yang diduga ditekan mengenai berbagai kejadian yang tidak terdokumentasi dan sangat tidak masuk akal dalam psikoterapi, seperti kegiatan memuja setan yang menyebar luas serta isu penculikan alien, membuat keakuratan sebagian besar ingatan lain yang lebih masuk akal, yang diduga dapat diingat kembali oleh para klien saat perawatan, menjadi meragukan. Masalahnya adalah para terapis sering tidak bisa membedakan “sinyal” ingatan akurat dengan kegaduhan ingatan palsu.

Jelas bahwa berbagai kejadian yang diingat tersedia dalam ingatan, meskipun para partisipan awalnya tidak mengatakan kejadian tersebut. Mungkin awalnya mereka sangat malu melaporkan kejadian buruk tersebut, atau membutuhkan beberapa dorongan untuk mengingatnya. Kecenderungan menyebut keadaan lupa biasa atau lupa yang tak dapat dijelaskan dengan penekanan ingatan tampaknya telah mengakar dalam budaya barat.

Dalam satu decade terakhir, Mitos tentang trauma menimbulkan kontroversi yang ditemukan sudah turun sampai ke tingkat tertentu dalam komunitas ilmiah. Satu consensus telah disepakati bahwa prosedur yang bersifat menyarankan seperti hypnosis, visualisasi, dan pertanyaan menjurus, dapat memunculkan ingatan palsu tentang berbagai kejadian yang akurat sering disebabkan oleh lupa atau ingat biasa, bukan penekanan ingatan.

Mitos tentang trauma

Tidak semua ingatan yang pulih setelah dilupakan selama bertahun tahun, atau bahkan beberapa decade, adalah ingatan palsu sehingga para psikoterapis harus berhati hati agar tidak menepis semua ingatan tentang pelecehan masa kecil yang baru saja diingat. Perlu bagi psikoterapis untuk tidak sepenuhnya mempercayai mitos tentang trauma. Namun, mereka tidak boleh menganggap ingatan yang pulih sebagai ingatan asli kecuali disertai bukti yang menguatkan.

Demikianlah informasi mengenai mitos tentang trauma. Artikel terbaru bisa dilihat di Home. Artikel berikutnya mengenai mitos ingatan manusia.

Mitos tentang trauma | | 4.5