Peran Perempuan dalam Budaya Patriarki

Peran perempuan dalam budaya patriarki memang kurang diperhatikan dan diperhitungkan. Selama berabad abad, peradaban manusia telah membuat gambaran tentang perempuan dengan cara pandang ambigu dan paradox. Perempuan dipuja sekaligus direndahkan. Ia dianggap sebagai tubuh yang indah bagai bunga ketika ia mekar, tetapi kemudian dicampakkan begitu saja begitu ia layu. Tubuh perempuan identik dengan daya pesona dan kesenangan, tetapi dalam waktu yang sama ia dieksploitasi demi hasrat diri dan keuntungan. Perempuan dipuji sebagai tiang negara.

Peran Perempuan dalam Budaya Patriarki terutama di sebagian dunia Arab, tubuh perempuan harus dilindungi dan dibungkus rapat rapat, sering hanya menyisakan dua buah matanya atau bahkan tertutup cadar hitam. Konon ini karena di dalamnya menyimpan sesuatu yang berharga yang tidak boleh diperlihatkan kepada laki laki, kecuali suami dan kerabatnya. Ketika melepaskan bungkusnya mereka harus “ditertibkan” dan sah dihukum. Perempuan harus selalu dikontrol. Seiring dengan tetesan perama darah haidnya, setiap gadis muslim menjadi simbol suci kehormatan keluarga dan masyarakatnya.

peran perempuan dalam budaya patriarki

Peran Perempuan dalam Budaya Patriarki

Peran Perempuan dalam Budaya Patriarki dan Menurut norma dalam masyarakat muslim, anak gadis harus memperoleh izin ayahnya ketika hendak menikah. Bahkan sebagian ayah boleh menikahkannya dengan laki laki pilihannya, meski si anak tidak menginginkannya. Ketika suami tidak lagi menyukai istrinya, ia dapat melepaskannya kapan saja. Hak memutuskan ikatan pernikahan hanya ada pada tangan laki laki.

Peran Perempuan dalam Budaya Patriarki adalah sumber petaka dan kesialan laki laki tidak hanya monopoli dalam masyarakat islam. Dalam dunia Eropa kuno maupun abad pertengahan, perempuan dianggap kurang layak bagi tingkah laku moral. Perasaan perempuan mendorongnya untuk berjalan menuju setiap kejahatan. Laki laki harus mengawasi setiap langkah perempuan dan perempuan diciptakan untuk taat kepada laki laki.

Pendeknya dalam banyak peradaban, peremuan tidak pernah menjadi manusia yang utuh, independen dan otonom. Mereka bukan dianggap manusia yang memiliki hak dan kewajiban yang setara dalam memenuhi hak hak sosial, ekonomi, dan politik, bahkan hak hak Tuhan. Perempuan seakan akan tidak boleh memiliki dunia.

Dalam banyak pandangan sumber utama patriarkhisme ini adalah interpretasi laki laki atau teks teks suci, terutama tentang kisah kejatuhan Adam dari surge. Cerita ini sangat terkenal, terutama dalam masyarakat Yahudi dan Kristen awal. Intinya adalah bahwa Adam terjatuh dari surge karena Hawa, sehingga Hawa dianggap sebagai asal usul kejahatan di Bumi. Tuhan lalu mengutuknya sekaligus memerintahkannya untuk taat kepada Adam. Cerita ini secara terang melegitimasi patriarkhisme bahkan melegitimasi kebencian pada perempuan, mengunggulkan dominasi laki laki dan mewajibkan perempuan untk patuh kepada laki laki.

Peran Perempuan dalam Budaya Patriarki terutama dewasa ini, partiarkhisme tengah menghadapi tantangan tantangan dari kebudayaan modern yang mendasarkan diri kepada daemokrasi dan hak hak dasar manusia. Demokrasi meniscayakan sistem yang mengidealkan tidak adanya struktur yang hirarkis, sistem kehidupan yang terbuka bagi setiap individu dan dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka pula. Sementara hak hak asasi manusia meniscayakan kesetaraan, kemerdekaan tiap individu manusia, serta tegaknya hukum yang berkedilan. Hak hak asasi manusia menuntut dihapuskannya praktik praktif kehidupan yang diskriminatif, termasuk dalam aspek gender.

Terdapat perbedaan bersifat internal dan substansial yang jelas antara perempuan dan laki laki ditinjau dari segi fisik, seperti dalam pertumbuhan tinggi badan, payudara, rambut, organ genitalia internal dan eksternal, serta jenis hormonal yang mempengaruhi variasi ciri ciri fisik dan biologisnya. Terjadinya perbedaan secara fisik antara perempuan dan laki laki ditentukan sejak masa konsepsinya, yaitu saat sel telur atau ovum yang mengandung 22 pasang kromoson sejenis (22 AA) dan sepasang kromoson seks XX bergabung dengan sel sperma (spermatozoa) yang mengandung 22 pasang kromosom sejenis (22 AA) dan sepasang kromosom seks XY. Jika kromosom seksdari perempuan bergabung dengan kromosom seks Y dari laki laki, melahirkan bayi laki laki. Berdasarkan perbedaan jenis kromosom seks yang dimiliki perempuan dan yang dikeluarkan oleh laki laki menghasilkan jenis kelamin tertentu.

Dengan demikian, kromosom yang dimiliki ibu dan ayah berbeda, demikianpun anak yang dihasilkan dari jenis kromosom berbeda dari ayah dan ibunya akan menghasilkan perbedaan struktur fisiologis dan biologis yang kemudian berkembang sebagai genitaliaperempuan dan laki laki pada sekitar minggu keenam masa dalam kandungan. Kromosom dari ayah dan ibu yang sudah bergabung itu membentuk sel yang disebut testis. Awal berkembangnya testis hanya terjadi pada embrio yang mengandung kromosom seks XY. Testis tersebut mulai memproduksi hormone seks. Pada testis yang mengandung kromosom XX memproduksi hormone progesterone dan estrogen, dan testis yang mengandung kromosom XY menghasilkan hormone androgen. Ketiadaan hormone androgen pada testis yang mengandung kromosom XX menghasilkan telur dan kelenjar gonad yang membentuk menjadi indung telur dan perkembangan genitalia eksternal dan internal janin perempuan, dan pada testis yang mengandung kromosom XY mengembangkan organ eksternal dn internal janin laki laki.

Peran Perempuan dalam Budaya Patriarki yang Berakar dari pandangan bahwa karakteristik fisiologis antara perempuan dan laki laki itu berbeda menimbulkan pandangan diskiriminatif terhadap perempuan dalam segala segi yang sebenarnya tidak ada kaitan sama sekali dengan aspek fisiologis dan biologis. Oleh karena itu, terjadilah kontroversi dalam memandang eksistensi perempuan. Para ahli terus mencari tahu dan mencari bukti bukti seberapa besar disposisi fisiologis dan biologis berpengaruh terhadap perbedaan gender dalam kepribadian feminine dan maskulin. Menurut pandangan para ahli kontemporer yang telah melakukan penelitian terhadap psikologi perempuan diketahui bahwa perbedaan kepribadian perempuan dan laki laki banyak dipengaruhi oleh faktor ekspektasi dan sosialisasi dari orang tua daripada oleh faktor fisiologis.

Demikianlah informasi mengenai Peran Perempuan dalam Budaya Patriarki. Untuk melihat artikel terbaru silahkan lihat di Home. Artikel selanjutnya tentang bias dalam psikologi sosial perempuan.

Peran Perempuan dalam Budaya Patriarki | | 4.5