Sejarah Psikologi Kontemporer Wanita

Sejarah psikoilogi kontemporer mengenai perempuan atau mengacu pada paradigm psikologi feminis, yaitu suatu cara pandang memahami eksistensi perempuan berdasarkan norma perempuan. Bukanlah pekerjaan yang mudah untuk meruntuhkan pandangan yang telah terlanjur diyakini secara umum.

Suatu fakta biologis yang tidak dapat disangkal, perempuan dikodratkan untuk haid, hamil, melahirkan, dan menyusui. Suatu fungsi yang tidak dapat diambil alih oleh laki laki. Fakta ini menimbulkan konsekuensi yang penting bagi kehidupan manusia. Manusia berbeda dengan makhluk lain, ia memiliki kemampuan untuk menginternalisasi komposisi biologisnya sehingga terbentuklah kenyataan sosial baginya. Apa yang dipandang sebagai perilaku perempuan atau laki laki, tergantung pada bagaimana fakta biologis itu diasosiasikan dengan nilai nilai yang berlaku dalam tata hidup masyarakat tertentu. Jadi, perbedaan perempuan dan laki laki mencerminkan interaksi antara komposisi biologis dan pola kehidupan sosial.

psikologi kontemporer

Sejarah psikologi kontemporer

memang tidak bisa dipisahkan dari berbagai penelitian psikologi yang telah beranggapan bahwa perbedaan antara sifat keperempuanan dan sifat kelaki lakian sangat erat hubungannya dengan perbedaan biologis antara perempuan dan laki laki. Dengan demikian, perbedaan kedua sifat itu diasumsikan sebagai dua kutub yang berbeda sehingga jika seseorang menunjukkan tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma perempuan atau laki laki, dianggap mempunyai kelainan.

Asumsi tersebut mestinya dilakukan untuk mengukur sifat perempuan dan laki laki dengan menggunakan skala kontinum yang berbeda. Konsep ini disebut dengan konsep dua kutub (bipolar), tetapi para ahli psikologi klasik menggunakan model sala kontinum tunggal, diamna sifat feminine dan maskulin dipandang sebagai gejala satu dimensi dan bukan gejala multidimensional.

Sejarah psikologi kontemporer mengenai perempuan juga tidak bisa dipisahkan dengan fakta biologis, eksistensi perempuan dan laki laki dianalisis menggunakan pendekatan bipolar. Fakta biologis menunjukkan perempuan secara kodrati dapat haid, hamil, melahirkan dan menyusui, sedangkan laki laki secara kodrati dapat membuahi sel telur perempuan, sesuai dengan potensi organ dan reproduksi yang dimiliki masing masing yang berkonsekuensi pada fungsi reproduksi yang berbeda. Perbedaan fakta biologis ini tidak mengindikasikan yang satu lebih unggul atas yang lain, tetapi untuk menunjukkan bahwa fungsiĀ  fungsi yang terdapat pada masing masing potensi tidak akan terjadi tanpa ikatan ketergantungan dan saling melengkapi. Dengan kata lain, fungsi reproduksi hanya terjadi karena ada perbedaan potensi reproduksi yang dimiliki oleh perempuan dan laki laki, dan juga fungsi reproduksi tidak akan terjadi oleh sendirinya, tanpa saling ketergantungan dan kelengakapan dari lain jenis.

Dalam memahami sifat feminism dan maskulin, psikologi feminis menggunakan pendekatan dualistic, karena kedua sifat itu dapat ditemukan ada pada satu individu. Oleh karena itu, pelabelan (stereotype) sifat perempuan sebagai inferior, lemah lembut, emosional, lebih rendah inteletualitasnya adalah kliru karena tidak didukung oleh metodologi penelitian yang tepat dan bukti empiric yang kuat. Hal inilah yang membuat terciptanya sejarah psikologi kontemporer mengenai perempuan. Stereotype yang muncul dari ideology partiarkhisme dan statusquo yang ingin mempertahankan superioritas laki laki. Teori psikologi androcentris hanya dikembangkan berdasarkan fantasi laki laki yang diproyeksikan kepada perempuan.

Posisi perempuan yang kurang kuat di masyarakat itulah yang mempengaruhi perilakunya, karena ia harus menyesuaikan dengan keinginan laki laki yang berkuasa. Perilaku perempuan merupakan suatu reaksi untuk memprotes hak istimewa dan kekuasaan laki laki. Narcisisme, masochisme, dan pasivitas hanyalah topeng yang dipakaikan laki laki kepada perempuan. Lahirnya psikologi feminis merupakan kritik terhadap kekuatan sosial yang memaksi perempuan hanya berperan sebagai ibu dan memiliki tugas keibuan.

Sejarah psikologi kontemporer mengenai perempuan didukung dengan pola yang sudah dari dahulu diciptakan. Dahulu pengasuhan anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab ibu. Pandangan lama menganggap sosialisasi merupakan bentukan orangtua, guru, dan masyarakat. Kini banyak pandangan yang meyakinkan bahwa keibuan adalah sikap yang dapat diberikan oleh siapa pun selain ibunya sendiri. Pandangan baru mengatakan bahwa awal bayi itu aktif, sehingga tugas ibu bukan menciptakan sesuatu dari ketiadaan, tetapi menyesuaikan perilakunya dengan kepentingan anak, mana yang penting mendapat perilaku keibuan sehingga perilaku keibuan dapat pula dilakukan oleh orang lain selain ibunya.

Banyak peristiwa dalam kehidupan sehari hari yang menyudutkan kaum perempuan. Misalnya, perempuan dipandang memiliki sifat yang emosional, cengeng, dan mudah menangis. Jika ditelusuri dari akar penyebab perempuan itu suka menangis, tampaknya karena norma sosial membiarkan perempuan menangis dan sebaliknya mengecam laki laki yang menangis. Hal hal tersebut juga mendukung terciptanya sejarah psikologi kontemporer mengenai perempuan.

Demikianlah informasi mengenai sejarah psikologi kontemporer mengenai perempuan. Untuk mengentahui artikel terbaru mengenai psikologi silahkan lihat di Home. Artikel berikutnya mengenai personal space dalam psikologi lingkungan.

Sejarah Psikologi Kontemporer Wanita | | 4.5